Warga Papua Minta Polisi Berhenti Menangkap

warga Papua minta Polisi berhenti menangkap

Koalisi Masyarakat Sipil untuk Demokrasi menyesalkan tindakan petugas polisi yang menangkap delapan warga Papua. Penangkapan itu terkait dengan kasus di mana ia mengibarkan bendera bintang pagi di depan istana negara di Jakarta Pusat pada rapat umum pada hari Rabu, 29 Agustus 2019. Akhirnya warga Papua minta Polisi berhenti menangkap mereka.

Penangkapan delapan orang Papua dianggap tidak pantas, melanggar nilai-nilai demokrasi dan mengarah ke diskriminasi etnis. Koalisi Masyarakat Sipil untuk Demokrasi mengambil sikap dan menyerukan agar penangkapan segera dihentikan.

“Berhentilah menyapu atau menyapu apa pun seperti asrama para siswa gentoo,” direktur LBH di Arif Maulana, Jakarta, mengatakan dalam percakapan dengan Okezone, Senin (2/9/2019).

Kedua, menghentikan penangkapan sewenang-wenang dan mengambil inisiatif untuk dialog yang berkelanjutan untuk menyelesaikan konflik di Papua secara damai. Benar bahwa warga Papua minta Polisi berhenti menangkap pada demonstran asal Papua.

Ketiga, ia mendesak pasukan keamanan, terutama polisi, untukĀ bola pulsa bersikap profesional dalam memberikan prioritas pada prinsip-prinsip hak asasi manusia dalam menangani peristiwa yang terjadi.

“Kami khawatir bahwa upaya berlebihan polisi dapat memperburuk masalah yang terjadi di Papua,” katanya.

Kedelapan orang Papua yang ditangkap adalah Carles Kossay, Dano Tabuni, Ambrose Mulait, Isay Wenda, Naliana Wasiangge, Wenebita Wasiangge, Norince Kogoya dan Surya Anta.

Mereka sekarang telah ditetapkan sebagai tersangka dan tahanan di Mako Brimob Kelapa Dua di kota Depok di Jawa Barat.

Postingan Terpopuler

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *